Meski pendanaan startup Indonesia anjlok pada 2025, ekonomi digitalnya mendekati 100 miliar dolar dan pembayaran digital melonjak. Inilah gambaran ekosistem startup terbesar di kawasan.
Di balik gemuruh ekonomi digital Asia Tenggara, Indonesia berdiri sebagai pemilik ekosistem startup terbesar di seluruh kawasan. Namun di tengah posisi istimewa itu, para pendiri kini menghadapi tantangan yang tidak ringan, yakni mengeringnya aliran pendanaan. Kombinasi antara raksasa pasar dan musim dingin modal ini menciptakan gambaran yang penuh kontras, sekaligus menarik untuk ditelaah lewat angka-angka terbaru.
Musim dingin pendanaan
Penurunan pendanaan menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut laporan, total pendanaan startup Indonesia hanya mencapai 355,7 juta dolar Amerika sepanjang tahun 2025, yang tersebar dalam 91 kesepakatan. Angka ini merosot sangat tajam jika dibandingkan dengan puncaknya pada 2021, ketika pendanaan sempat menembus 6,9 miliar dolar, menandai kontraksi selama empat tahun berturut-turut.
Tren penurunan tersebut ternyata masih terus berlanjut hingga tahun ini. Berdasarkan data yang dipublikasikan, pada paruh pertama 2026 pendanaan yang diumumkan hanya sebesar 161,3 juta dolar, atau turun 43,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini banyak dikaitkan dengan ketatnya likuiditas global, tingginya suku bunga Amerika, serta tantangan kepercayaan dan tata kelola di dalam negeri.
Raksasa Asia Tenggara

Meski demikian, posisi Indonesia di kawasan tetaplah sangat kuat dan strategis. Menurut laporan, tahun lalu Indonesia menempati peringkat ketiga dalam hal pendanaan startup di Asia Tenggara, berada di belakang Singapura dengan 4,2 miliar dolar dan Vietnam dengan 366 juta dolar. Dengan populasi yang begitu besar, potensi pasar Indonesia tetap menjadi daya tarik utama bagi para investor global.
Kekuatan ekosistem ini juga tercermin jelas dari skala ekonominya. Menurut laporan, ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati angka 99 miliar dolar, hampir menyentuh tonggak penting 100 miliar dolar. Selain itu, negara ini telah melahirkan sekitar tujuh belas unicorn secara kumulatif sepanjang perjalanannya, termasuk nama-nama besar seperti GoTo dan platform perjalanan Traveloka.
Fintech tetap memimpin
Di antara berbagai sektor yang ada, teknologi finansial tetap menjadi yang paling menonjol. Menurut laporan, fintech masih menjadi salah satu penerima pendanaan terbesar pada 2025, dengan nilai sekitar 77,1 juta dolar dalam bentuk pendanaan ekuitas. Hal ini tetap terjadi meskipun sektor tersebut secara keseluruhan mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang jauh lebih gemilang.
Kekuatan sektor finansial ini juga terlihat sangat jelas dari lonjakan transaksi digital. Berdasarkan data yang dipublikasikan, pada Februari 2026 nilai pembayaran digital tumbuh sebesar 40,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan transaksi melalui sistem QRIS melonjak hingga 133,20 persen secara tahunan, menunjukkan betapa cepatnya masyarakat Indonesia mengadopsi berbagai cara pembayaran nontunai.
Tantangan tahap awal
Di balik semua angka besar tersebut, para pendiri tahap awal tetap menghadapi jalan yang cukup terjal. Menurut laporan, sepanjang tahun 2025 hanya sekitar 15 persen startup tahap benih yang berhasil melaju ke pendanaan Seri A. Selain itu, sebanyak 67 persen dari seluruh kesepakatan masih terpusat pada tahap awal, memperlihatkan betapa sulitnya sebuah startup untuk naik ke level berikutnya yang lebih tinggi.
Gambaran ekosistem secara keseluruhan pun terbilang cukup luas dan tersebar merata. Berdasarkan data yang dipublikasikan, terdapat sekitar 1.708 startup yang terlacak di seluruh negeri, dengan Jakarta menempati peringkat ke-30 dunia dan menampung sekitar 1.217 startup. Dengan populasi mencapai sekitar 280 juta jiwa, atau sekitar 40 persen dari total penduduk ASEAN, potensi pertumbuhannya sungguh sangat besar.
Sinyal harapan
Meski suasana secara umum terasa lesu, tidak semua sinyal menunjukkan arah yang negatif. Menurut laporan, pendanaan tahap pra-benih diproyeksikan melampaui 100 juta dolar pada 2026, mencerminkan kenaikan sekitar 20 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, aktivitas modal ventura pada tahap Seri A tercatat menembus 1,2 miliar dolar yang tersebar di lebih dari 50 startup sepanjang tahun ini.
Kombinasi berbagai faktor ini menegaskan bahwa fondasi ekosistem Indonesia tetap kokoh meski diterpa badai. Pasar yang sangat besar, adopsi digital yang pesat, serta munculnya kembali minat pada tahap awal memberikan alasan yang kuat untuk tetap optimistis. Tantangannya kini adalah bagaimana mengubah potensi raksasa ini menjadi pertumbuhan yang nyata dan berkelanjutan bagi para pelaku usaha.
Ke mana arah ekosistem
Pada akhirnya, kisah startup Indonesia adalah kisah tentang kontras antara potensi raksasa dan tantangan yang begitu nyata. Dengan pasar yang sangat besar dan masyarakat yang semakin melek digital, negara ini memiliki hampir semua bahan untuk kembali bersinar begitu iklim pendanaan global mulai membaik. Pertanyaan besarnya kini adalah seberapa cepat ekosistem ini mampu bangkit dan meraih kembali momentumnya.

Keep subscribing to Sri WahyuniHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
