Transaksi QRIS melonjak 100 persen pada paruh pertama 2026 dan sistem QR nasional ini kini merambah lintas negara. Kami menelaah angka, ekosistem, dan dampaknya bagi ekonomi digital Indonesia.
Ketika berbicara tentang ekonomi digital Indonesia, perhatian sering tertuju pada pendanaan startup, valuasi, dan musim dingin modal ventura. Namun ada satu infrastruktur yang diam-diam mengubah kehidupan sehari-hari jutaan orang, yaitu sistem pembayaran berbasis kode QR bernama QRIS. Dari warung kecil hingga pusat perbelanjaan, sistem ini kini menjadi tulang punggung transaksi nontunai di Tanah Air. Artikel ini menelaah perkembangannya berdasarkan informasi yang tersedia dan sumber yang telah dipublikasikan.
Apa itu QRIS
QRIS adalah standar nasional untuk pembayaran melalui kode QR. Menurut informasi yang tersedia, sistem ini diciptakan oleh Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, dan diluncurkan pada 17 Agustus 2019, bertepatan dengan hari kemerdekaan. Seluruh penyedia layanan pembayaran diwajibkan menerapkannya mulai 1 Januari 2020. Tujuannya sederhana namun ambisius, yaitu menyatukan beragam layanan pembayaran ke dalam satu sistem yang bisa digunakan oleh semua orang di mana saja.
Menyatukan beragam kode QR
Sebelum QRIS hadir, situasinya jauh lebih rumit bagi pedagang dan konsumen. Menurut informasi yang tersedia, dulu setiap layanan pembayaran digital menggunakan kode QR eksklusif yang tidak saling kompatibel, sehingga pedagang harus memasang banyak kode berbeda. QRIS mengubah hal itu dengan menciptakan interoperabilitas, yaitu satu kode QR yang bisa diterima oleh seluruh bank dan aplikasi pembayaran yang berpartisipasi. Inilah yang membuat penggunaannya begitu praktis dan cepat menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.
Lonjakan besar di 2026
Pertumbuhan QRIS pada tahun ini benar-benar mencolok. Menurut informasi yang tersedia, volume transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026, naik 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksinya melonjak sekitar 89,52 persen menjadi Rp600,69 triliun, atau sekitar 33,5 miliar dolar. Bahkan pada Juli, transaksi QRIS masih tumbuh sekitar 82,4 persen secara tahunan. Angka-angka ini menunjukkan betapa cepatnya masyarakat beralih ke pembayaran digital.
Puluhan juta pengguna dan pedagang
Di balik lonjakan transaksi itu ada basis pengguna yang sangat luas. Menurut informasi yang tersedia, hingga akhir Juni 2026 sistem ini memiliki sekitar 66 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta pedagang di seluruh negeri. Jumlah ini menggambarkan betapa dalamnya QRIS telah menembus perekonomian sehari-hari, mulai dari kota besar hingga daerah. Bagi banyak pedagang, menerima pembayaran digital kini bukan lagi pilihan mewah, melainkan bagian normal dari cara mereka berjualan setiap hari.
Target Bank Indonesia
Meski sudah besar, ambisi di baliknya masih terus tumbuh. Menurut informasi yang tersedia, Bank Indonesia menargetkan 70 juta pengguna, 47 juta pedagang, dan 17 miliar transaksi hingga akhir 2026. Selain itu, bank sentral memperkirakan keseluruhan pembayaran digital akan tumbuh hampir 30 persen sepanjang tahun ini. Target yang tinggi ini mencerminkan keyakinan bahwa ruang pertumbuhan masih sangat besar, terutama karena sebagian masyarakat masih dalam proses beralih dari uang tunai.
Ekosistem yang luas
Kekuatan QRIS terletak pada jaringan pihak yang terlibat di dalamnya. Menurut informasi yang tersedia, ekosistem ini kini mencakup 96 bank, 60 lembaga keuangan nonbank, dan empat operator peralihan pembayaran. Kombinasi ini memungkinkan interoperabilitas yang luas, sehingga dana dapat mengalir mulus antara berbagai lembaga dan aplikasi. Keterlibatan begitu banyak pemain sekaligus menjadi bukti bahwa QRIS bukan produk satu perusahaan, melainkan infrastruktur bersama yang menopang seluruh sistem pembayaran nasional.
Membayar cukup dengan sentuhan
Teknologi di balik QRIS pun terus berkembang agar semakin praktis. Menurut informasi yang tersedia, sebuah varian berbasis NFC bernama QRIS Tap diluncurkan pada Maret 2025, yang mampu menyelesaikan transaksi hanya dalam sekitar 0,3 detik. Dengan cara ini, pengguna tidak perlu lagi memindai kode secara manual, melainkan cukup mendekatkan ponsel. Inovasi seperti ini penting untuk menjaga kenyamanan, terutama di tempat-tempat dengan antrean panjang seperti transportasi umum dan gerai makanan cepat saji.
Merambah lintas negara
QRIS tidak lagi berhenti di batas negara. Menurut informasi yang tersedia, sistem ini telah digunakan untuk pembayaran lintas negara di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, dengan rencana perluasan ke India dan Uni Emirat Arab. Indonesia dan India bahkan menjajaki penghubungan QRIS dengan sistem UPI milik India untuk mempermudah pembayaran lintas negara. Langkah ini membuka peluang besar bagi wisatawan dan pelaku usaha yang bergerak di kawasan Asia dan sekitarnya.
Dorongan bagi UMKM

Salah satu dampak terbesar QRIS terasa di kalangan usaha kecil. Menurut informasi yang tersedia, sejak awal sistem ini dirancang untuk mendukung inklusi keuangan dan pengembangan UMKM, dengan sebagian besar pedagang yang bergabung berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah. Dengan hanya memasang satu kode, pedagang kecil bisa menerima pembayaran tanpa perlu mesin mahal. Hal ini membantu mereka mencatat penjualan secara rapi dan berpotensi membuka akses ke layanan keuangan lain di masa depan.
Mengapa ini penting
Di tengah perlambatan pendanaan startup, keberhasilan QRIS menawarkan cerita yang berbeda tentang ekonomi digital Indonesia. Alih-alih bergantung pada bakar uang dan valuasi tinggi, QRIS tumbuh sebagai infrastruktur publik yang nyata dipakai jutaan orang setiap hari. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi digital tidak hanya dibangun oleh perusahaan rintisan, tetapi juga oleh sistem dasar yang memudahkan transaksi. Dampaknya menyebar luas, menyentuh pedagang, konsumen, dan pada akhirnya keseluruhan roda perekonomian.
Tantangan ke depan
Meski pertumbuhannya mengesankan, jalan ke depan tetap menyimpan tantangan. Sebagai negara kepulauan yang luas, Indonesia masih menghadapi kesenjangan akses internet dan literasi digital di sejumlah daerah. Keamanan transaksi dan perlindungan data pengguna juga menjadi perhatian penting seiring meningkatnya volume pembayaran. Agar pertumbuhan tetap sehat, penyedia layanan dan regulator perlu memastikan sistem tetap andal, aman, dan mudah diakses, termasuk oleh masyarakat yang baru pertama kali menggunakan pembayaran digital.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, QRIS telah menjelma menjadi salah satu kisah sukses paling nyata dalam ekonomi digital Indonesia. Menurut informasi yang tersedia, transaksinya melonjak dua kali lipat pada paruh pertama 2026, jumlah pengguna dan pedagang menembus puluhan juta, dan sistem ini mulai merambah ke berbagai negara. Lebih dari sekadar teknologi, QRIS menunjukkan bagaimana infrastruktur bersama dapat mengubah kebiasaan sehari-hari. Dengan target yang terus dinaikkan, perjalanan pembayaran digital Indonesia tampaknya masih jauh dari selesai.

Keep subscribing to Sri WahyuniHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
