avalw
BUSINESS · ID

Pendanaan Startup Indonesia Makin Selektif di Tengah Lesunya Modal Ventura

Sri Wahyuni Sri Wahyuni sriwahyuni.avalw.com · 4.1k reads Respect0 Save Share Read only
READS601live count PUBLISHED3 Sept2026 READING TIME2 min493 words LANGUAGEIndonesian
AI CITATIONS? Gathering data

Pasar modal ventura Asia Tenggara mencatat kinerja terburuk dalam beberapa tahun pada 2026. Nilai pendanaan startup teknologi Indonesia turun ke US$213 juta, dan investor global kian selektif serta fokus pada jalur menuju keuntungan.

Iklim pendanaan bagi para pendiri startup di Indonesia sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Setelah bertahun-tahun tumbuh pesat, aliran modal ke perusahaan rintisan kini melambat, dan para investor menjadi jauh lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh kawasan Asia Tenggara. Menurut laporan, pasar modal ventura di kawasan ini secara umum sedang mengalami tekanan, sehingga membuat lanskap pendanaan sepanjang tahun ini terasa jauh lebih menantang dari biasanya.

Semester yang berat bagi modal ventura

Data pada paruh pertama tahun ini menggambarkan situasinya dengan cukup jelas. Menurut laporan, ekosistem pendanaan startup di Asia Tenggara mencatat salah satu kinerja terburuknya dalam beberapa tahun terakhir sepanjang periode enam bulan pertama tersebut.

Salah satu indikatornya bahkan terlihat sangat mencolok. Menurut laporan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 tidak ada satu pun dana ekuitas swasta maupun modal ventura lokal di kawasan yang berhasil mencatatkan putaran penggalangan dana final atau final close.

Angka pendanaan yang menurun tajam

Pendanaan bagi startup teknologi mengetat, dan investor makin selektif. Gambar sebagai ilustrasi.
Pendanaan bagi startup teknologi mengetat, dan investor makin selektif. Gambar sebagai ilustrasi.

Bagi Indonesia secara khusus, penurunannya terlihat jelas dari angka yang konkret. Menurut laporan, nilai pendanaan startup teknologi di Indonesia turun menjadi US$213 juta pada tahun 2025, sebuah angka yang jauh lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, koreksinya bahkan terasa lebih dramatis. Menurut laporan, angka tersebut anjlok sekitar 38 persen dibanding tahun 2024, dan turun hingga 85 persen jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2023.

Modal mengalir ke Jepang dan India

Menariknya, para investor global tidak sepenuhnya meninggalkan kawasan Asia. Menurut laporan, pergeseran modal ini bukan disebabkan oleh hilangnya minat terhadap kawasan, melainkan oleh konsentrasi pada proyek-proyek yang dinilai jauh lebih matang.

Fokus perhatian para investor itu kini banyak tertuju pada dua negara besar. Menurut laporan, arus modal semakin terkonsentrasi pada peluang-peluang di Jepang dan India, yang dianggap menawarkan tingkat kematangan pasar yang lebih tinggi bagi para pemodal.

Dana raksasa mendominasi

Di tingkat Asia yang lebih luas, dominasi para pemain besar juga sangat terasa. Menurut laporan, tiga mega-fund pan-Asia, yaitu EQT, Blackstone, dan Bain Capital, meraup total komitmen sebesar US$39,2 miliar sepanjang periode tersebut.

Angka itu sekaligus menunjukkan betapa terpusatnya modal pada saat ini. Menurut laporan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 85 persen dari total modal ekuitas swasta di kawasan Asia Pasifik, sehingga menyisakan ruang yang jauh lebih sempit bagi pemain kecil.

Sektor yang tetap diminati

Meski secara umum melambat, sejumlah sektor tertentu tetap menarik perhatian para investor. Menurut laporan, minat kini banyak tertuju pada infrastruktur digital dan energi, termasuk pusat data berbasis kecerdasan buatan, konektivitas, serta transisi energi.

Selain itu, muncul pula ketertarikan pada pendekatan investasi yang lebih tematik. Menurut laporan, tema-tema seperti teknologi maritim, penerapan ekonomi sirkular, dan berbagai upaya keberlanjutan semakin menjadi sorotan di mata para pemodal saat ini.

Fokus pada jalur menuju keuntungan

Di tengah proses seleksi yang semakin ketat ini, ada satu kata kunci yang menonjol. Para investor kini menekankan pentingnya jalur menuju keuntungan yang nyata, bukan sekadar pertumbuhan jumlah pengguna yang cepat namun terus-menerus merugi.

Sebagai gambaran, salah satu pemain besar pun ikut menegaskan arah baru ini. Dilaporkan bahwa GoTo menargetkan EBITDA sebesar Rp3,4 triliun pada tahun 2026, naik sekitar 69 persen, sebuah sinyal bahwa fokus industri kini bergeser dari sekadar ekspansi menuju keberlanjutan bisnis yang sehat.

3 responses
Nur Gunawan1 week ago

Banyak belajar soal Indonesia di sini.

2
Yoga Pratama1 week ago

Tulisan yang sangat berguna soal Indonesia.

1
Fitri Halim1 week ago

Liputan yang bagus soal Indonesia.

1
Sri Wahyuni
Follow this desk
Sri Wahyuni
Create a free account to follow Sri Wahyuni. New stories land in your feed, and you can save any of them to your own reading lists.
Your library & lists →
Sri Wahyuni
WRITTEN BY THE AUTHOR
Sri Wahyuni 2026-09-03 · 2 min read · 601 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
Sri Wahyuni Keep following Sri WahyuniHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Up next
More
Statistics Search Become a creator Alliances About Terms Privacy