Kardiolog dr Vito A Damay, SpJP(K) mengungkapkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup untuk memicu serangan jantung pada usia 28 tahun. Gaya hidup modern yang penuh stres menjadi pemicu utama penumpukan plak yang tidak bisa hilang.
Dr Vito A Damay, SpJP(K), baru saja menangani pasien berusia 28 tahun yang tiba-tiba mengalami serangan jantung. Kasus ini bukan anomali, melainkan sinyal bahaya yang semakin sering kita dengar. Usia di bawah 30 tahun kini sudah masuk kategori berisiko tinggi untuk masalah kardiovaskular. Dulu, kita mengira jantung muda selalu kuat. Realitas di ruang praktik menunjukkan hal yang jauh berbeda.
Peristiwa ini diungkap dr Vito di sela peluncuran HUAWEI WATCH GT 7 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026). Ia menegaskan bahwa faktor genetik saja tidak cukup untuk membuat seseorang kena serangan jantung di usia 28 tahun. Selalu ada faktor lain yang memicu kondisi tersebut. Faktor itu adalah pola hidup yang men-trigger atau memicu terjadinya hal fatal tersebut. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan 'kita masih muda'.
Kondisi pasien muda ini menjadi cerminan nyata dari tantangan medis saat ini. Dr Vito menekankan bahwa usia bukan lagi penentu tunggal kesehatan jantung. Banyak anak muda yang merasa kebal terhadap penyakit degeneratif karena merasa tubuh mereka masih segar. Namun, data klinis membuktikan bahwa kerusakan vaskular bisa terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan umum. Ini adalah peringatan keras bagi semua generasi muda yang meremehkan tanda-tanda awal kelelahan kardiovaskular.
Gaya Hidup yang Menipu
Kementerian Kesehatan RI mencatat beberapa penyebab yang sangat dekat dengan keseharian kita. Kebiasaan makan cepat saji menjadi salah satu biang keladinya. Minum kopi berlebihan juga turut memperberat beban kerja jantung. Begadang demi kerja atau sekadar scroll media sosial menjadi rutinitas yang merusak ritme tubuh. Kurang olahraga membuat sistem kardiovaskular semakin lemah. Semua ini membentuk pola hidup yang membebani jantung secara kronis.
Stres kronis kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup anak muda. Tekanan pekerjaan, sosial, atau urusan pribadi terus menghantui pikiran. Rokok dan vape pun menjadi teman sehari-hari sebagian besar generasi muda. Kombinasi ini menciptakan lingkungan internal tubuh yang sangat tidak kondusif. Jantung dipaksa bekerja di bawah tekanan tanpa jeda yang cukup. Ini adalah resep sempurna untuk kerusakan pembuluh darah.
Pola konsumsi makanan tinggi lemak trans dan gula sederhana sangat umum di kalangan pekerja kantoran. Pilihan praktis sering kali mengorbankan kualitas nutrisi yang dibutuhkan sel jantung. Kopi dalam jumlah besar meningkatkan tekanan darah sementara, memaksa otot jantung bekerja ekstra keras. Tidur yang tidak cukup mengganggu proses pemulihan alami pembuluh darah. Akumulasi dari faktor-faktor kecil ini menciptakan beban kumulatif yang signifikan.

Plak yang Tidak Bisa Hilang
Menurut dr Vito, penumpukan plak di pembuluh darah koroner atau aterosklerosis merupakan penyebab tersering. Plak ini perlahan menyempitkan saluran aliran darah ke jantung. Ketika plak pecah atau membentuk gumpalan darah, serangan jantung terjadi. Yang membuat situasi ini sangat mengerikan adalah sifat permanen dari kerusakan tersebut.
Jika terlanjur ada sumbatan, plak itu tidak bisa hilang. Dr Vito menegaskan bahwa plak-plak itu, kalau sudah ada, tidak bisa hilang. Ini bukan sekadar peradangan yang bisa reda dengan obat. Ini adalah perubahan struktural pada dinding pembuluh darah. Pencegahan menjadi satu-satunya jalan keluar. Mengabaikan tanda-tanda bahaya berarti mengundang kerusakan permanen.
Proses aterosklerosis berlangsung secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Lipid dan kolesterol menumpuk di lapisan intima pembuluh darah, membentuk kerak keras. Kerak ini mengurangi elastisitas arteri dan menghambat aliran oksigen ke otot jantung. Ketika terjadi ruptur plak, respons peradangan memicu pembekuan darah masif. Sumbatan total ini menyebabkan nekrosis jaringan jantung yang tidak dapat dipulihkan secara alami.

Konteks Penyakit Lainnya
Sementara kita membahas risiko jantung muda, ancaman lain juga meningkat. Peneliti Monash University melaporkan perubahan iklim memperluas wilayah perkembangbiakan nyamuk. Kasus malaria di Indonesia melonjak signifikan dari 418.000 kasus pada tahun 2023 menjadi 706.000 kasus pada tahun 2025. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.
Demam berdarah juga tercatat menyerang sekitar 161.937 orang di Indonesia pada tahun 2025. Dr. Toby Cumming dari Monash University menjelaskan bahwa perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan. Hal ini memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes. Kita menghadapi ancaman ganda: penyakit jantung yang semakin muda dan penyakit menular yang semakin sulit dikendalikan.
Kenaikan suhu global mengubah siklus hidup vektor penyakit menular secara drastis. Musim hujan yang lebih panjang menciptakan genangan air baru yang menjadi tempat berkembang biak ideal. Nyamuk Aedes dan Anopheles kini mampu bertahan hidup di dataran tinggi yang sebelumnya dianggap aman. Lonjakan kasus malaria dan demam berdarah ini menunjukkan betapa rapuhnya kesehatan masyarakat terhadap perubahan lingkungan. Sistem imunitas tubuh yang sudah dipaksa bekerja keras oleh stres jantung kini harus menghadapi ancaman infeksi tambahan.

Tren Sehat yang Nyata
Di tengah ancaman tersebut, muncul tren positif di kalangan anak muda. Donor darah kini menjadi tren gaya hidup sehat, tak lagi identik dengan usia tua. Jalan kaki juga kembali menjadi tren anak muda sebagai gaya hidup sehat tanpa biaya. Generasi Z mulai sadar bahwa kesehatan bukan sekadar estetika, melainkan kebutuhan dasar.
Universitas Airlangga menyoroti gaya hidup sehat ala Gen Z sebagai keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan tekanan sosial. Memahami batas diri menjadi kunci utama. Tren ini menunjukkan bahwa ada kesadaran kolektif untuk berubah. Namun, kesadaran saja tidak cukup. Kita perlu tindakan nyata yang konsisten setiap hari. Kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.
Teknologi wearable seperti jam pintar kini menjadi alat bantu vital dalam memantau vitalitas. Fitur detak jantung dan peringatan dini memberikan data objektif tentang kondisi tubuh. Anak muda mulai menggunakan data ini untuk menyesuaikan gaya hidup mereka secara real-time. Donor darah menjadi simbol solidaritas dan kesadaran akan kesehatan fisik. Jalan kaki di pagi hari membantu menurunkan kortisol dan memperbaiki sensitivitas insulin. Kombinasi teknologi, aktivitas fisik, dan kesadaran sosial menciptakan fondasi kesehatan yang lebih kuat.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Marsinah UtamiHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
