Beberapa hari lagi, cabang bulu tangkis Indonesia kembali berlaga di Asian Games 2026 yang digelar di Jepang. Dari lapangan tanah di kampung hingga panggung Asia, inilah kisah olahraga yang memberi Indonesia medali emas Olimpiade pertamanya. Sebuah catatan tentang warisan, beban, dan harapan Merah P
Bagi saya, olahraga selalu punya cara untuk menyatukan orang. Sepak bola mungkin menjadi denyut nadi kampung tempat saya besar, tetapi ada satu cabang lain yang gaungnya sama kuatnya di seluruh pelosok Indonesia, dari gang sempit di kota hingga lapangan tanah di desa yang jauh: bulu tangkis.
Dalam beberapa hari ke depan, cabang kebanggaan ini kembali menjadi sorotan. Para pemain terbaik Indonesia bersiap terbang ke Jepang untuk berlaga di Asian Games 2026, membawa harapan jutaan orang yang, seperti saya, tumbuh besar dengan suara kok yang beradu dengan raket di sore hari.
Bulu tangkis, denyut lain dari kampung
Hampir tidak ada sudut Indonesia yang tidak mengenal bulu tangkis. Di banyak kampung, lapangan sederhana bisa muncul di mana saja: di halaman rumah, di jalan gang yang ditutup sementara, bahkan hanya dengan garis yang digambar seadanya di atas tanah. Raket dan kok menjadi mainan sekaligus mimpi yang bisa dijangkau siapa saja.
Justru dari lapangan-lapangan sederhana itulah lahir banyak juara dunia. Bulu tangkis di Indonesia bukan sekadar olahraga, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas bangsa. Ia mengajarkan bahwa dari tempat yang paling bersahaja sekalipun, seseorang tetap bisa berdiri di panggung tertinggi dunia dan mengibarkan Merah Putih.
Panggung Asian Games 2026

Tahun ini, panggung itu bernama Asian Games 2026, yang secara resmi dibuka pada 19 September di kawasan Aichi dan Nagoya, Jepang. Cabang bulu tangkis sendiri dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 29 September, dipusatkan di gedung olahraga Kota Ichinomiya, yang akan menjadi saksi perjuangan para pemain terbaik Asia.
Asian Games selalu menjadi ajang yang istimewa, karena di sinilah kekuatan bulu tangkis dunia benar-benar berkumpul dalam satu tempat. Sebagian besar negara adidaya cabang ini memang berasal dari Asia, sehingga persaingan di lapangan sering kali jauh lebih ketat dan menegangkan dibandingkan banyak turnamen lain di belahan dunia mana pun.
Warisan emas dari Barcelona
Untuk memahami mengapa bulu tangkis begitu berarti, kita perlu sejenak menengok ke masa lalu. Bulu tangkis baru resmi menjadi cabang Olimpiade pada tahun 1992 di Barcelona, dan justru di sanalah Indonesia menorehkan sebuah sejarah besar yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa ini sepanjang masa.
Susi Susanti menjadi peraih medali emas Olimpiade pertama sepanjang sejarah Indonesia, dan hanya berselang sekitar dua jam, Alan Budikusuma menyusul dengan emas di nomor tunggal putra. Sejak tahun 1952 Indonesia terus menanti, dan bulu tangkislah yang akhirnya mewujudkannya, menjadikan Indonesia negara Asia Tenggara pertama yang meraih emas Olimpiade.
Skuad Garuda menuju Jepang
Kepulangan Susi dan Alan pada Agustus 1992 disambut dengan cara yang luar biasa: ratusan ribu, bahkan konon mendekati satu juta orang, memenuhi jalanan Jakarta untuk mengarak sang juara. Kenangan itulah yang menjelaskan mengapa setiap kali skuad bulu tangkis berangkat, mereka tidak hanya membawa raket, tetapi juga beban sejarah yang panjang.
Menjelang Asian Games kali ini, PBSI telah mengumumkan dua puluh pemain yang dipercaya membela Merah Putih. Mereka adalah perpaduan antara pemain berpengalaman yang sudah kenyang dengan gelar dan wajah-wajah muda yang lapar akan pembuktian, sebuah kombinasi yang selalu menarik untuk diikuti dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Beban dan harapan
Menjadi wakil Indonesia di cabang bulu tangkis memang tidak pernah mudah. Setiap pemain sadar bahwa mereka mewarisi standar tinggi yang telah ditetapkan para pendahulu, dan bahwa jutaan pasang mata di rumah rela begadang demi menyaksikan setiap poin. Harapan sebesar itu bisa menjadi sayap yang menerbangkan, tetapi juga bisa terasa seperti beban.
Lebih dari sekadar medali
Namun, seperti biasa, saya percaya bahwa cerita yang paling berkesan sering kali bukan soal siapa yang naik ke podium. Ia bisa berupa pemain muda yang kalah di babak awal tetapi pulang dengan pengalaman berharga, atau sorak sorai satu keluarga di kampung yang berkumpul menonton bersama di depan sebuah layar televisi kecil.
Karena pada akhirnya, bulu tangkis bagi Indonesia bukan sekadar urusan medali emas semata. Ia adalah bahasa bersama yang menyatukan kota dan desa, tua dan muda, dalam satu tarikan napas yang sama setiap kali kok melambung tinggi di udara. Dan justru hal itulah yang akan saya cari ketika Asian Games nanti benar-benar dimulai.
Mengikuti Indonesia dan ini membantu.
Tulisan yang sangat berguna soal Indonesia.
Indonesia: dijelaskan dengan jelas.

Keep subscribing to Dian PratamaHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
