avalw
⚲
BUSINESS · ID

Pluang: 40% Pengguna Kini Miliki Portofolio Multiaset

Indra Permana Indra Permana indrapermana.avalw.com · 293 reads Respect0 Save Share Read only
READS6live count PUBLISHED12 Oct2026 READING TIME4 min716 words LANGUAGEIndonesian
AI CITATIONS? Gathering data

Pluang mencatat 40% penggunanya kini memegang portofolio multiaset. Claudia Kolonas memperingatkan agar diversifikasi tidak menjadi sekadar kejar tren, melainkan strategi yang terukur sesuai profil risiko.

ALSO ON THE CREATOR SITERead this on indrapermana.avalw.comOpen

Empat dari sepuluh pengguna Pluang kini memiliki portofolio multiaset. Angka ini diungkapkan langsung oleh Claudia Kolonas, Co Founder Pluang, saat berbicara di Investor Daily Summit 2026 pada 8 Oktober 2026. Pergeseran ini menandai perubahan signifikan dari lanskap investasi generasi muda Indonesia yang sebelumnya cenderung terfokus pada satu instrumen, khususnya aset kripto.

Data dari platform tersebut menunjukkan bahwa preferensi investor terus berkembang sejak Pluang diluncurkan pada tahun 2019. Jika awalnya kripto mendominasi karena daya tariknya pada segmen anak muda, kini emas, saham domestik, dan saham Amerika Serikat mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari portofolio. Claudia menegaskan bahwa keputusan untuk memiliki beberapa jenis aset tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing investor, bukan sekadar mengikuti arus pasar.

Perubahan ini sangat relevan di tengah volatilitas pasar keuangan global yang tengah berlangsung. Banyak investor pemula yang mulai menyadari bahwa menggantungkan seluruh dana pada satu instrumen berisiko tinggi. Diversifikasi menjadi jawaban logis, namun eksekusinya menuntut pemahaman yang matang terhadap karakteristik setiap aset yang dipilih.

Mengapa Generasi Muda Mulai Berpindah Aset

Peningkatan literasi keuangan menjadi katalis utama di balik pergeseran preferensi ini. Claudia menjelaskan bahwa dinamika pasar yang fluktuatif mendorong pengguna untuk mencari cara membagi risiko secara lebih efektif. Kripto memang masih menjadi aset yang diminati, namun posisinya kini disusul oleh emas yang dinilai lebih stabil, serta instrumen pendapatan tetap seperti reksa dana.

Reksa dana menjadi pintu masuk yang menarik bagi masyarakat yang ingin memulai investasi dengan produk yang relatif sederhana. Kompleksitas pemilihan saham individual atau manajemen portofolio kripto yang tinggi membuat banyak investor pemula memilih kendaraan investasi yang dikelola profesional. Hal ini menunjukkan matangnya ekosistem investasi di Indonesia di mana pilihan instrumen semakin beragam dan mudah diakses.

Ketersediaan teknologi juga mempercepat adopsi strategi multiaset. Platform digital memungkinkan investor untuk membeli berbagai aset dalam satu aplikasi yang sama. Kemudahan akses ini menghapus hambatan administratif yang dulu menghalangi diversifikasi, membuat strategi yang dulunya hanya untuk investor institusional kini dapat diterapkan oleh individu.

Emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari stabilitas di tengah volatilitas pasar.
Emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari stabilitas di tengah volatilitas pasar.

Ancaman FOMO dari Media Sosial

Meskipun diversifikasi adalah strategi yang sehat, ada jebakan psikologis yang mengintai. Media sosial kerap dipenuhi cerita kesuksesan finansial dan tren investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Paparan konten semacam ini tidak jarang memicu Fear of Missing Out atau FOMO di kalangan generasi muda yang baru memulai perjalanan investasinya.

Dorongan untuk ikut memperoleh keuntungan dapat membuat investor mengambil keputusan impulsif tanpa mempertimbangkan risiko yang ada. Akibatnya, keinginan meraih keuntungan dengan cepat justru sering berujung pada kerugian. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi pasar modal Indonesia di mana informasi tersebar lebih cepat daripada pemahaman mendalam tentang instrumen keuangan.

Konten dari financial influencer atau finfluencer juga menjadi salah satu sumber informasi utama bagi generasi muda. Meskipun konten tersebut dapat memperluas wawasan investasi, Claudia mengingatkan bahwa informasi yang diterima tidak boleh langsung menjadi dasar pengambilan keputusan. Kritis terhadap sumber informasi adalah keterampilan penting yang harus dimiliki investor modern.

Media sosial menjadi sumber informasi utama, namun juga pemicu keputusan impulsif bagi investor pemula.
Media sosial menjadi sumber informasi utama, namun juga pemicu keputusan impulsif bagi investor pemula.

Membangun Strategi yang Rasional

Memahami karakteristik aset adalah langkah pertama dalam mengelola risiko. Diversifikasi berarti membagi investasi ke beberapa jenis aset agar portofolio tidak bergantung pada satu instrumen saja. Namun, sekadar memiliki banyak jenis aset tidak otomatis menjamin keamanan jika alokasi dana tidak mencerminkan profil risiko investor.

Strategi yang efektif dimulai dari penentuan tujuan keuangan yang jelas. Apakah dana tersebut untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, atau jangka panjang? Setiap horizon waktu memiliki instrumen yang berbeda. Emas mungkin cocok untuk lindung nilai jangka panjang, sementara reksa dana pasar uang lebih cocok untuk dana darurat yang membutuhkan likuiditas tinggi.

Manajemen risiko juga melibatkan penentuan batas kerugian yang dapat diterima. Investor harus memiliki rencana tindakan jika pasar bergerak melawan ekspektasi mereka. Diversifikasi membantu meredam guncangan, tetapi tidak dapat menghilangkan risiko pasar secara total. Oleh karena itu, disiplin dalam mengevaluasi portofolio secara berkala menjadi kunci keberlanjutan strategi investasi.

Disiplin dan ketenangan adalah kunci utama dalam mengelola risiko di pasar yang fluktuatif.
Disiplin dan ketenangan adalah kunci utama dalam mengelola risiko di pasar yang fluktuatif.

Menjaga Keseimbangan Antara Tren dan Fundamental

Di tengah arus informasi yang deras, investor dituntut untuk tetap berpijak pada fundamental. Tren pasar dapat berubah dengan cepat, tetapi prinsip dasar manajemen risiko tetap berlaku. Mengikuti tren tanpa pemahaman yang memadai ibarat berlayar tanpa kompas di tengah badai.

Perkembangan teknologi memperluas akses, namun juga meningkatkan kompleksitas keputusan. Investor memiliki lebih banyak pilihan daripada sebelumnya, yang berarti juga lebih banyak potensi untuk salah pilih. Kemampuan untuk menyaring informasi dan memilah mana yang relevan dengan profil investasi masing-masing menjadi keterampilan yang sangat berharga.

Keberhasilan investasi di era multiaset tidak diukur semata-mata oleh imbal hasil tertinggi, tetapi oleh ketahanan portofolio terhadap berbagai skenario pasar. Dengan memahami kebutuhan masing-masing dan mengelola risiko secara aktif, investor dapat membangun fondasi keuangan yang kokoh di tengah ketidakpastian global.

Pertanyaan umum

Berapa persen pengguna Pluang yang kini memiliki portofolio multiaset?

Empat dari sepuluh pengguna Pluang atau 40% kini memiliki portofolio multiaset. Angka ini diungkapkan oleh Claudia Kolonas, Co Founder Pluang, pada acara Investor Daily Summit 2026.

Apa saja instrumen investasi yang kini menjadi bagian dari portofolio pengguna Pluang selain kripto?

Selain aset kripto, pengguna kini juga mulai mengoleksi emas, saham domestik, serta saham Amerika Serikat. Instrumen pendapatan tetap seperti reksa dana juga menjadi pilihan yang semakin populer di kalangan investor pemula.

Mengapa generasi muda Indonesia beralih dari fokus kripto ke strategi diversifikasi aset?

Peningkatan literasi keuangan dan kesadaran akan risiko tinggi pada satu instrumen mendorong pergeseran ini. Investor kini lebih memilih membagi risiko melalui diversifikasi agar portofolio lebih stabil di tengah volatilitas pasar global.

Bagaimana peran reksa dana bagi investor pemula di platform Pluang?

Reksa dana menjadi pintu masuk yang menarik karena sifatnya yang relatif sederhana dan dikelola secara profesional. Instrumen ini cocok bagi pemula yang ingin memulai investasi tanpa harus menghadapi kompleksitas manajemen portofolio kripto atau pemilihan saham individual.

Apa bahaya utama dari mengikuti tren investasi di media sosial menurut Claudia Kolonas?

Paparan konten sukses di media sosial dapat memicu FOMO yang mendorong keputusan investasi impulsif. Hal ini berisiko tinggi karena investor sering mengabaikan analisis risiko dan fundamental, sehingga keinginan cepat kaya justru berujung pada kerugian.

Kapan data mengenai pergeseran preferensi investasi pengguna Pluang diumumkan?

Data tersebut diumumkan pada 8 Oktober 2026. Pengumuman disampaikan langsung oleh Claudia Kolonas saat berbicara di forum Investor Daily Summit 2026.

0 responses
No responses yet. Be the first to add one.
Indra Permana
Follow this desk
Indra Permana
Create a free account to follow Indra Permana. New stories land in your feed, and you can save any of them to your own reading lists.
Your library & lists →
Indra Permana
WRITTEN BY THE AUTHOR
Indra Permana 2026-10-12 · 4 min read · 6 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
Indra Permana Keep subscribing to Indra PermanaHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Up next
More
Statistics Search Become a creator Alliances About Terms Privacy