Dari jalan tanah hingga sawah yang basah, desa-desa terpencil Indonesia perlahan menjadi tujuan utama para pelancong. Lewat program Anugerah Desa Wisata Indonesia yang lahir pada 2021, ribuan kampung kini terhubung dalam satu jaringan. Sebuah catatan perjalanan tentang pariwisata yang tumbuh dari ak
Sebagai orang yang gemar menyusuri pelosok Nusantara, saya selalu percaya bahwa keindahan Indonesia yang sesungguhnya justru tersembunyi jauh dari gemerlap kota dan pusat keramaian. Ia ada di jalan-jalan tanah yang basah, di rimbunnya pepohonan, dan di desa-desa kecil yang jarang sekali masuk ke dalam peta perjalanan orang.
Dalam beberapa tahun terakhir, desa-desa itu perlahan menemukan panggungnya sendiri. Lewat konsep yang disebut desa wisata, kampung-kampung terpencil kini tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah, melainkan berubah menjadi tujuan utama bagi para pelancong yang mencari pengalaman lebih jujur dan dekat dengan kehidupan warga.
Ketika desa menjadi tujuan
Selama ini, pariwisata Indonesia identik dengan pantai, gunung, atau situs megah yang sudah kondang di mana-mana. Namun ada pergeseran menarik yang sedang terjadi: semakin banyak wisatawan yang justru ingin merasakan denyut kehidupan sehari-hari sebuah kampung, dari cara warganya bertani hingga tradisi yang mereka rawat turun-temurun.
Bagi saya, inilah bentuk perjalanan yang paling berkesan. Menginap di rumah warga, ikut memanen di sawah, atau sekadar berbincang di teras pada sore hari sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar berfoto di depan tempat terkenal lalu bergegas pergi menuju lokasi berikutnya.
Apa itu desa wisata

Secara sederhana, desa wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana asli setempat, mulai dari kehidupan sosial dan budaya, adat istiadat, keseharian warga, hingga potensi alam dan kulinernya, yang semuanya dikemas serta dikelola langsung oleh masyarakat desa itu sendiri.
Yang membuat konsep ini istimewa adalah posisinya yang menempatkan warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Hasil dari kunjungan wisatawan mengalir langsung ke ekonomi lokal, entah lewat penginapan sederhana, pemandu wisata warga, kuliner rumahan, maupun kerajinan tangan yang dibuat oleh tangan penduduk setempat.
Gerakan yang lahir dari krisis
Menariknya, dorongan besar untuk mengembangkan desa wisata justru lahir dari masa yang sulit. Pada tahun 2021, di tengah pukulan berat pandemi terhadap sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan sebuah program bernama Anugerah Desa Wisata Indonesia, atau yang kerap disingkat menjadi ADWI.
Program itu hadir sebagai upaya membangkitkan kembali pariwisata dari akar rumput, sekaligus mendorong terwujudnya pariwisata hijau yang berkelanjutan. Alih-alih memusatkan perhatian pada segelintir destinasi besar saja, semangatnya adalah menyebarkan manfaat pariwisata hingga ke pelosok-pelosok yang selama ini luput dari perhatian.
Ribuan desa dalam satu jaringan
Sambutan terhadap program ini ternyata luar biasa besar. Menurut data yang tercatat, pada tahun 2024 saja tercatat sekitar enam ribu desa yang mendaftarkan diri untuk ikut serta. Angka itu menunjukkan betapa besar potensi dan antusiasme yang sebelumnya mungkin tidak pernah benar-benar kita sadari selama ini.
Seluruh desa ini kemudian terhubung dalam sebuah jaringan bernama Jadesta, atau Jejaring Desa Wisata. Hingga tahun 2025, tercatat lebih dari enam ribu seratus desa wisata yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, sebuah peta baru yang membentang dari ujung barat Sumatera hingga jauh ke timur Papua.
Empat tingkatan menuju mandiri
Tidak semua desa wisata berada pada titik yang sama, dan justru di situlah letak menariknya. Dalam ADWI, desa wisata dikelompokkan ke dalam empat tingkatan, yaitu Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri. Klasifikasi ini menggambarkan perjalanan sebuah desa, dari yang baru memulai hingga yang benar-benar berdaya secara mandiri.
Lebih dari sekadar pemandangan
Ketika saya berkunjung ke desa-desa seperti ini, saya sadar bahwa yang saya bawa pulang bukan hanya sekadar foto pemandangan yang indah. Saya membawa cerita tentang orang-orang yang menjaga tanah mereka, tentang anak-anak yang tumbuh besar di antara sawah, dan tentang keramahan yang tidak bisa dibeli di sudut mana pun.
Mungkin karena itulah desa wisata terasa begitu penting. Ia bukan sekadar tren pariwisata sesaat, melainkan cara agar kemajuan tidak lagi hanya berhenti di kota-kota besar. Dan bagi saya, tidak ada catatan perjalanan yang lebih layak dibagikan selain kisah tentang pelosok Nusantara yang perlahan bangkit dengan caranya sendiri.
Mengikuti pariwisata dan ini membantu.
pariwisata: dibahas lebih baik dari yang lain.
Tulisan yang sangat berguna soal pariwisata.
Setuju.

Keep following Siti GunawanHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Follow