Data terbaru dari Airbnb dan tren lokal menunjukkan pergeseran gaya liburan: Gen Z memilih perjalanan singkat dan snackpacking, sementara Milenial mengejar pengalaman budaya yang mendalam.
Saya berhenti sejenak di satu angka spesifik dalam laporan 2026 Travel Predictions dari Airbnb. Pencarian perjalanan internasional berdurasi 1-2 hari oleh wisatawan Gen Z naik tajam, jauh melampaui tren perjalanan panjang. Data ini ditarik dari aktivitas pencarian wisatawan Amerika Serikat selama 2023 hingga 2025. Angka itu mengagetkan siapa pun yang masih percaya bahwa liburan yang layak harus berlangsung berminggu-minggu.
Generasi sebelumnya memandang waktu luang sebagai aset berharga yang harus dibelanjakan dalam blok besar. Gen Z punya definisi lain. Mereka tidak menunggu cuti tahunan atau musim liburan resmi untuk bergerak. Yang dicari adalah intensitas, bukan durasi. Akhir pekan di luar negeri atau dua hari di kota tetangga dianggap cukup untuk mengisi ulang energi dan mengumpulkan materi baru untuk media sosial.
Ini bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan pergeseran fundamental dalam cara setiap generasi memandang waktu, uang, dan pengalaman. Gen X, Milenial, dan Gen Z kini hidup di bawah satu atap tren pariwisata, tetapi dengan motivasi yang sangat berbeda. Memahami perbedaan ini krusial bagi kita yang ingin merencanakan perjalanan, maupun bagi pelaku industri yang ingin menyasar pasar yang tepat.
Perjalanan Singkat yang Padat Makna
Laporan Airbnb menunjukkan Gen Z memanfaatkan waktu singkat ini untuk menjelajahi kota secara intensif. Mereka mencicipi kuliner, mengunjungi tempat bersejarah, hingga merasakan kehidupan malam. Tidak ada rasa perlu menghabiskan waktu berhari-hari untuk merasa 'libur'. Satu hari yang penuh pengalaman dianggap lebih berharga daripada satu minggu yang setengah kosong.
Fleksibilitas waktu menjadi kunci utama di sini. Mereka tidak terikat oleh jadwal kerja yang kaku atau kewajiban keluarga yang besar. Kondisi ini memungkinkan mereka bergerak cepat, mengambil keputusan spontan, dan menikmati momen tanpa beban perencanaan yang berlebihan. Bagi Gen Z, liburan adalah tentang momen, bukan destinasi.

Milenial dan Kejaran Pengalaman Bermakna
Di sisi lain, Milenial menunjukkan tren yang berbeda. Mereka semakin tertarik dengan pengalaman wisata yang bermakna, di mana liburan tidak hanya tentang mengunjungi tempat populer atau mengumpulkan foto, tetapi juga tentang memahami konteks budaya setempat. Laporan Korea Calling dari Airbnb, yang diterbitkan pada April 2026, menunjukkan bahwa 80 persen responden Gen Z dan Milenial menyebut budaya Korea sebagai faktor kuat yang memengaruhi ketertarikan mereka untuk berkunjung.
Lebih menarik lagi, 91 persen responden menyatakan bahwa pengalaman budaya lokal adalah bagian penting dari perjalanan mereka. Bagi Milenial, interaksi dengan masyarakat lokal, mencicipi makanan khas, dan belajar tentang sejarah tempat yang mereka kunjungi adalah bentuk penghargaan terhadap tujuan wisata. Mereka ingin merasa menjadi bagian dari cerita, bukan sekadar pengamat.
Ini menunjukkan pergeseran dari wisata massal ke wisata yang lebih personal dan reflektif. Milenial cenderung memilih pengalaman yang memberikan dampak, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi komunitas lokal. Mereka mencari koneksi, bukan sekadar transaksi.

Snackpacking: Fenomena Pasar Tradisional
Di Indonesia, tren yang mirip dengan pencarian makna ini termanifestasi dalam fenomena 'snackpacking'. Istilah ini merujuk pada aktivitas berwisata sambil menjelajahi jajanan lokal, khususnya di pasar tradisional, sebagai tujuan utama perjalanan. Menurut sumber dari kemenpar.go.id, snackpacking bukan sekadar 'cari makan', tetapi sebuah pengalaman budaya yang menyeluruh.
Gen Z melihat pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi, tetapi ruang hidup yang menyimpan cerita, interaksi sosial, dan identitas kuliner daerah. Dengan modal Rp50.000 hingga Rp100.000, mereka bisa mencicipi banyak jenis jajanan lokal tanpa menguras kantong. Ini adalah bentuk wisata yang terjangkau, autentik, dan sangat 'shareable' di media sosial.
Pasar 16 Ilir di Palembang, misalnya, menjadi salah satu tujuan yang menarik karena suasananya mencerminkan denyut kehidupan kota tepian Sungai Musi. Suara pedagang, aroma makanan khas, dan interaksi spontan dengan pembeli menciptakan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Bagi Gen Z, ini adalah bentuk keaslian yang mereka cari.

Glamping: Kenyamanan di Tengah Alam
Sementara Gen Z dan Milenial berburu pengalaman budaya, ada segmen wisatawan lain yang memilih kenyamanan di tengah alam, yaitu melalui glamping. Bisnis glamping di Bali semakin berkembang, terutama di kawasan seperti Kaldera Batur, Kintamani. Made Sarjana, akademisi dari Universitas Udayana, menyebutkan bahwa glamping menyasar wisatawan kelas atas yang ingin menikmati alam tanpa meninggalkan kenyamanan fasilitas akomodasi.
Daya tarik glamping terletak pada pengalaman menikmati suasana alam yang tenang, termasuk minimnya cahaya lampu pada malam hari. Namun, Sarjana juga mengingatkan bahwa keselamatan dan kelayakan lokasi harus menjadi prioritas utama. Persaingan yang ketat menuntut standar yang lebih tinggi, bukan hanya dalam hal estetika, tetapi juga dalam aspek keselamatan pengunjung dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
Glamping menjadi contoh bagaimana pariwisata bisa memenuhi kebutuhan akan pengalaman premium, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dan sosial. Ini adalah keseimbangan yang sulit, tetapi penting untuk keberlanjutan industri pariwisata.
Ramah Muslim dan Aksesibilitas
Aspek lain yang tidak bisa diabaikan adalah inklusivitas, terutama bagi wisatawan muslim. Laporan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 menilai 15 provinsi sebagai destinasi ramah muslim, dengan Jawa Barat mempertahankan posisi pertama dengan skor 73,5. Disusul Jawa Tengah (71,7) dan Nusa Tenggara Barat (70,1).
Penilaian ini dilakukan melalui kolaborasi antara CrescentRating, Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, EHTC, dan Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Peningkatan terlihat di beberapa provinsi seperti Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kepulauan Riau, yang menunjukkan komitmen untuk mengembangkan pariwisata yang lebih inklusif dan ramah bagi wisatawan muslim.
Ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang keindahan alam atau budaya, tetapi juga tentang bagaimana kita melayani berbagai kebutuhan dan keyakinan wisatawan. Inklusivitas adalah kunci untuk menarik pasar yang lebih luas dan memastikan bahwa semua orang merasa diterima.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Putu WijayaHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
