Dengan target belasan juta wisatawan pada 2026, Indonesia berupaya menyebarkan pariwisata ke luar Bali. Dari Danau Toba hingga Raja Ampat, inilah destinasi prioritas yang kini menjadi andalan.
Selama bertahun-tahun, ketika dunia membicarakan liburan ke Indonesia, satu nama hampir selalu muncul lebih dulu di kepala banyak orang: Bali. Namun memasuki tahun 2026, pemerintah dan para pelaku industri berusaha keras mengubah cerita itu. Pesannya sederhana namun kuat, bahwa Indonesia sesungguhnya jauh lebih luas dan lebih kaya daripada sekadar satu pulau saja.
Bali yang terlalu ramai
Angka-angka menjelaskan dengan gamblang mengapa perubahan ini terasa begitu mendesak. Sepanjang tahun 2025, Indonesia menerima sekitar 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Dari jumlah itu, hampir 7 juta atau sekitar 45 persen terpusat di Bali saja, terutama di kawasan populer seperti Canggu, Seminyak, Uluwatu, dan Ubud. Konsentrasi sebesar itu jelas menimbulkan tantangan tersendiri.
Menurut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, potensi negeri ini sebenarnya jauh melampaui satu pulau. Indonesia bukan hanya Bali, tegasnya, sembari menekankan bahwa masih ada begitu banyak destinasi unggulan lain dengan potensi wisata dan investasi yang sangat besar. Pernyataan ini pun menjadi landasan utama bagi strategi baru yang tengah dijalankan pemerintah.
Sepuluh destinasi prioritas
Sebagai bagian dari upaya pemerataan, pemerintah menetapkan sepuluh destinasi prioritas yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Daftar itu antara lain mencakup Danau Toba di Sumatra Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, serta Likupang yang berada di ujung Sulawesi Utara.
Daftar tersebut masih berlanjut dengan sederet nama lain yang tak kalah menarik untuk dijelajahi. Ada Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, kawasan Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Morotai di Maluku Utara, dan tentu saja Raja Ampat di Papua Barat Daya. Masing-masing menawarkan karakter dan daya tarik yang benar-benar berbeda.
Labuan Bajo dan sang kadal purba

Salah satu bintang utama dari kelompok ini adalah Labuan Bajo, yang berfungsi sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Bulan April hingga Oktober umumnya disebut sebagai waktu terbaik untuk menyelam, dengan jarak pandang bawah laut yang jernih dan kesempatan besar bertemu ikan pari manta. Di kawasan inilah wisatawan juga bisa mendekati komodo secara langsung.
Pengalaman di kawasan ini sama sekali tidak berhenti di situ saja. Pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit dari Pulau Padar yang begitu ikonik, atau bermain air di Pink Beach dengan pasirnya yang berwarna merah muda. Kombinasi antara satwa langka, lanskap yang dramatis, dan keindahan bawah laut menjadikan Labuan Bajo sebuah tujuan yang benar-benar sulit dilupakan.
Surga bawah laut Indonesia
Bagi para penyelam, boleh jadi tidak ada nama yang lebih memikat daripada Raja Ampat. Kawasan di ujung timur Indonesia ini dianggap oleh banyak peneliti kelautan sebagai salah satu sistem terumbu karang dengan keanekaragaman hayati paling kaya di seluruh dunia. Keindahan bawah lautnya yang luar biasa menjadi magnet kuat bagi wisatawan dari berbagai negara.
Tidak jauh berbeda, Likupang di Sulawesi Utara menawarkan alternatif yang jauh lebih tenang dibandingkan destinasi yang ramai. Dengan air laut yang jernih, hamparan pasir yang lembut, dan kekayaan biota lautnya, kawasan ini kini menarik wisatawan yang mencari ketenangan, snorkeling, serta jalan-jalan santai sambil menikmati keindahan alam sekitar.
Fokus pada wisata berkelanjutan
Arah baru pariwisata Indonesia juga sangat menekankan aspek keberlanjutan. Di perairan Nusa Tenggara Timur, sebagai contoh, ekspedisi kapal phinisi yang beroperasi dari Labuan Bajo menerapkan aturan tanpa plastik sekali pakai dan menggunakan sistem penyaringan air limbah, agar tidak mencemari zona penting tempat pari manta mencari makanan mereka.
Pemerintah pun secara tegas menempatkan pariwisata yang berkelanjutan, berorientasi pada kesehatan, dan autentik sebagai fokus utama. Selain itu, sedang dikembangkan pula sistem verifikasi kepatuhan akomodasi berbasis teknologi, sebagai upaya menjaga standar kualitas sekaligus melindungi lingkungan dan kenyamanan wisatawan dalam jangka panjang.
Menyasar wisatawan bernilai tinggi
Untuk tahun 2026, Indonesia disebut membidik sekitar 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara, dengan perhatian khusus yang diarahkan pada pasar premium. Strategi ini tidak semata mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitasnya, yakni wisatawan yang cenderung tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan sungguh-sungguh menghargai pengalaman yang bermakna.
Pada akhirnya, upaya menyebarkan pariwisata ke luar Bali bukan sekadar soal angka kunjungan semata. Ini adalah tentang pemerataan manfaat ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pengenalan wajah Indonesia yang sesungguhnya sangat beragam. Jika strategi ini benar-benar berjalan mulus, tahun-tahun mendatang mungkin akan menampilkan Indonesia yang jauh lebih kaya di mata dunia.

Keep subscribing to Putu WijayaHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
