Permintaan pusat data di Indonesia melonjak dan cepat terserap, sementara pemerintah menjadikannya salah satu pilar ekonomi digital. Namun industri memperingatkan tahap pelaksanaan menjadi ujian sesungguhnya.
Indonesia sedang mengalami lonjakan pembangunan pusat data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebutuhan akan penyimpanan dan pemrosesan data terus meningkat seiring pesatnya adopsi layanan digital di seluruh negeri, mulai dari perdagangan elektronik hingga layanan keuangan.
Pemerintah menempatkan pusat data dan teknologi kecerdasan buatan sebagai salah satu pilar utama ekonomi digital. Namun di balik ambisi besar itu, para pelaku industri mengingatkan bahwa tahap pelaksanaan di lapangan akan menjadi ujian yang sesungguhnya.
Kapasitas yang cepat terserap

Saat ini Indonesia memiliki sekitar 45 pusat data berskala besar. Meski jumlahnya terus bertambah, kapasitas yang tersedia digambarkan sangat ketat karena setiap fasilitas baru langsung terserap oleh permintaan pasar yang begitu tinggi.
Menurut Chief Technology Officer badan pengelola aset negara Danantara, Sigit Puji Santosa, permintaan begitu besar sehingga kapasitas sebesar 100 hingga 200 megawatt pun akan langsung terisi. Sejumlah pelanggan bahkan harus menunggu enam, sembilan, hingga dua belas bulan untuk mendapatkan pasokan.
Modal utama Indonesia
Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi pemain besar di kawasan. Ketersediaan lahan yang luas, pasokan listrik, serta sumber daya air menjadi modal penting dalam pengembangan fasilitas pusat data berskala besar.
Chief Executive Officer BDx, Agus Hartono Wijaya, menilai Indonesia memiliki bahan utama untuk menjadi pusat pengembangan pusat data berbasis kartu grafis. Keunggulan itu justru menonjol ketika sejumlah negara tetangga mulai menghadapi keterbatasan ruang dan energi.
Peluang dari keterbatasan tetangga
Posisi Indonesia semakin kuat karena beberapa pusat teknologi di kawasan kesulitan berkembang. Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan energi, sementara wilayah Johor di Malaysia berhadapan dengan kendala serupa terutama pada pasokan listrik.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang sebelumnya mungkin mengalir ke negara lain. Dengan sumber daya yang melimpah, Indonesia berpeluang menampung permintaan komputasi yang terus tumbuh di kawasan Asia Tenggara.
Listrik untuk fasilitas terbesar
Pasokan energi menjadi tulang punggung operasional pusat data. Perusahaan listrik negara PLN menyediakan daya sebesar 2x725 MVA untuk fasilitas Digital Edge Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, yang disebut sebagai pusat data terbesar di Tanah Air.
Skala pasokan sebesar itu menggambarkan betapa besarnya kebutuhan energi industri ini. Setiap fasilitas baru menuntut daya yang stabil dalam jumlah besar, sehingga koordinasi dengan penyedia listrik menjadi faktor yang sangat menentukan.
Bagian dari ekonomi digital
Pertumbuhan pusat data berjalan seiring dengan geliat ekonomi digital nasional. Berdasarkan laporan, pendapatan dari aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Indonesia tumbuh 127 persen pada paruh pertama 2025, yang disebut sebagai momentum komersial terkuat di kawasan Asia Tenggara.
Prospek pasarnya pun dinilai cerah. Nilai pasar pusat data Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 2,4 miliar dolar AS pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 30 persen sepanjang periode 2025 hingga 2030.
Tantangan dan langkah ke depan
Meski prospeknya menjanjikan, industri ini tidak lepas dari hambatan. Kendala impor peralatan, keterlambatan pembangunan infrastruktur, serta keterbatasan pasokan listrik dan lahan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar ekspansi berjalan lancar.
Pemerintah juga menyiapkan rencana induk agar pembangunan pusat data lebih merata, termasuk ke wilayah timur Indonesia. Keberhasilan menjawab berbagai tantangan itu akan menentukan apakah Indonesia benar-benar mampu menjadi pusat data utama di Asia Tenggara.
Mengikuti ekonomi digital dan ini membantu.

Keep following Bagus PutraHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Follow