avalw
TECH · ID

Indonesia berlomba membangun pusat data raksasa demi ekonomi digital

Bagus Putra Bagus Putra bagusputra.avalw.com · 2.9k reads Respect0 Save Share Read only
READS483live count PUBLISHED5 Sept2026 READING TIME2 min472 words LANGUAGEIndonesian
AI CITATIONS? Gathering data

Permintaan pusat data di Indonesia melonjak dan cepat terserap, sementara pemerintah menjadikannya salah satu pilar ekonomi digital. Namun industri memperingatkan tahap pelaksanaan menjadi ujian sesungguhnya.

Indonesia sedang mengalami lonjakan pembangunan pusat data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebutuhan akan penyimpanan dan pemrosesan data terus meningkat seiring pesatnya adopsi layanan digital di seluruh negeri, mulai dari perdagangan elektronik hingga layanan keuangan.

Pemerintah menempatkan pusat data dan teknologi kecerdasan buatan sebagai salah satu pilar utama ekonomi digital. Namun di balik ambisi besar itu, para pelaku industri mengingatkan bahwa tahap pelaksanaan di lapangan akan menjadi ujian yang sesungguhnya.

Kapasitas yang cepat terserap

Permintaan pusat data di Indonesia tumbuh lebih cepat daripada kemampuan industri menambah kapasitas baru.
Permintaan pusat data di Indonesia tumbuh lebih cepat daripada kemampuan industri menambah kapasitas baru.

Saat ini Indonesia memiliki sekitar 45 pusat data berskala besar. Meski jumlahnya terus bertambah, kapasitas yang tersedia digambarkan sangat ketat karena setiap fasilitas baru langsung terserap oleh permintaan pasar yang begitu tinggi.

Menurut Chief Technology Officer badan pengelola aset negara Danantara, Sigit Puji Santosa, permintaan begitu besar sehingga kapasitas sebesar 100 hingga 200 megawatt pun akan langsung terisi. Sejumlah pelanggan bahkan harus menunggu enam, sembilan, hingga dua belas bulan untuk mendapatkan pasokan.

Modal utama Indonesia

Indonesia dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi pemain besar di kawasan. Ketersediaan lahan yang luas, pasokan listrik, serta sumber daya air menjadi modal penting dalam pengembangan fasilitas pusat data berskala besar.

Chief Executive Officer BDx, Agus Hartono Wijaya, menilai Indonesia memiliki bahan utama untuk menjadi pusat pengembangan pusat data berbasis kartu grafis. Keunggulan itu justru menonjol ketika sejumlah negara tetangga mulai menghadapi keterbatasan ruang dan energi.

Peluang dari keterbatasan tetangga

Posisi Indonesia semakin kuat karena beberapa pusat teknologi di kawasan kesulitan berkembang. Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan energi, sementara wilayah Johor di Malaysia berhadapan dengan kendala serupa terutama pada pasokan listrik.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang sebelumnya mungkin mengalir ke negara lain. Dengan sumber daya yang melimpah, Indonesia berpeluang menampung permintaan komputasi yang terus tumbuh di kawasan Asia Tenggara.

Listrik untuk fasilitas terbesar

Pasokan energi menjadi tulang punggung operasional pusat data. Perusahaan listrik negara PLN menyediakan daya sebesar 2x725 MVA untuk fasilitas Digital Edge Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, yang disebut sebagai pusat data terbesar di Tanah Air.

Skala pasokan sebesar itu menggambarkan betapa besarnya kebutuhan energi industri ini. Setiap fasilitas baru menuntut daya yang stabil dalam jumlah besar, sehingga koordinasi dengan penyedia listrik menjadi faktor yang sangat menentukan.

Bagian dari ekonomi digital

Pertumbuhan pusat data berjalan seiring dengan geliat ekonomi digital nasional. Berdasarkan laporan, pendapatan dari aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Indonesia tumbuh 127 persen pada paruh pertama 2025, yang disebut sebagai momentum komersial terkuat di kawasan Asia Tenggara.

Prospek pasarnya pun dinilai cerah. Nilai pasar pusat data Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 2,4 miliar dolar AS pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 30 persen sepanjang periode 2025 hingga 2030.

Tantangan dan langkah ke depan

Meski prospeknya menjanjikan, industri ini tidak lepas dari hambatan. Kendala impor peralatan, keterlambatan pembangunan infrastruktur, serta keterbatasan pasokan listrik dan lahan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar ekspansi berjalan lancar.

Pemerintah juga menyiapkan rencana induk agar pembangunan pusat data lebih merata, termasuk ke wilayah timur Indonesia. Keberhasilan menjawab berbagai tantangan itu akan menentukan apakah Indonesia benar-benar mampu menjadi pusat data utama di Asia Tenggara.

1 responses
Fajar Permana1 week ago

Mengikuti ekonomi digital dan ini membantu.

1
Bagus Putra
Follow this desk
Bagus Putra
Create a free account to follow Bagus Putra. New stories land in your feed, and you can save any of them to your own reading lists.
Your library & lists →
Bagus Putra
WRITTEN BY THE AUTHOR
Bagus Putra 2026-09-05 · 2 min read · 483 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
Bagus Putra Keep following Bagus PutraHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Up next
More
Statistics Search Become a creator Alliances About Terms Privacy