Thailand menang di panggung dunia bukan karena rasa, tapi karena sistem sertifikasi yang rapi. Indonesia punya 1.724 restoran di 65 negara, tapi belum punya mesin promosi sekuat Thai SELECT. Sekarang baru mulai bergerak.
Ironi di Balik Piring Rendang
Data Dashboard Gastrodiplomasi Kementerian Luar Negeri mencatat jumlah restoran Indonesia di luar negeri mencapai 1.724 unit yang tersebar di 65 negara. Angka ini terlihat mengesankan, menunjukkan bahwa cita rasa Nusantara sudah benar-benar hadir di banyak sudut dunia. Sate ayam bahkan menjadi menu yang paling banyak dicari oleh wisatawan asing, diikuti oleh nasi goreng, bakso, soto, dan mi goreng. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang mencolok antara jumlah kehadiran fisik dan kekuatan brand di benak konsumen global.
Di sisi lain, Thailand memiliki jejak internasional yang jauh lebih terstruktur dan mudah dikenali. Menu seperti pad thai, tom yum, dan green curry sudah sangat familiar, bahkan di kota-kota kecil di Amerika Serikat hingga Singapura. Ketika orang asing mendengar istilah Thai food, mereka langsung memiliki gambaran jelas tentang rasa asam-pedas atau aroma rempah yang akan mereka dapatkan. Ini adalah hasil dari strategi branding yang konsisten, bukan sekadar keberuntungan. Indonesia, dengan kekayaan rasa yang tak kalah kuat, ternyata belum mampu mengubah potensi tersebut menjadi identitas global yang sekuat tetangga kita di selatan.
Sistem di Balik Keberhasilan Thai SELECT
Kunci perbedaan ini terletak pada pendekatan ekosistem yang dibangun Thailand. Negara tersebut tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjual kategori yang mudah dikenali. Di balik popularitas tersebut, terdapat instrumen strategis bernama Thai SELECT. Jaringan ini berfungsi sebagai sertifikasi, promosi, dan konektivitas bisnis yang menghubungkan restoran Thailand dengan produsen makanan di dalam negeri. Hingga Mei 2026, jaringan Thai SELECT telah mencakup 1.419 restoran di 70 negara. Angka ini menunjukkan bahwa Thailand berhasil menciptakan standar mutu yang diakui secara internasional, yang kemudian menjadi daya tarik bagi wisatawan dan investor.
Program ini juga aktif melakukan business matching, yaitu mempertemukan restoran di luar negeri dengan pemasok bahan baku di Thailand. Dengan cara ini, rantai pasok menjadi lebih kuat dan konsisten. Restoran di luar negeri tidak perlu lagi bergantung pada bahan lokal yang mungkin tidak sesuai standar, karena mereka bisa mendapatkan bahan baku yang sama persis dengan yang ada di Bangkok atau Chiang Mai. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah negara bisa mengubah kuliner menjadi industri yang terintegrasi dan berkelanjutan. Thailand berhasil membuat 'Thai food' menjadi sebuah merek, bukan sekadar deskripsi rasa.

Rasa Indonesia: Upaya Menjemput Bola
Indonesia kini mulai bergerak ke arah yang sama dengan meluncurkan program Rasa Indonesia. Program ini bertujuan untuk mendorong penjenamaan restoran Indonesia di luar negeri, sekaligus menghubungkannya dengan UMKM, chef, diaspora, dan pemasok produk makanan. Tujuannya bukan hanya memperkenalkan makanan, tetapi memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi kuliner global. Ini adalah langkah yang tepat, mengingat potensi yang dimiliki Indonesia sangat besar. Namun, tantangan terbesarnya adalah konsistensi dan eksekusi di lapangan.
Untuk bisa menyaingi Thailand, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap restoran yang membawa nama bangsa memiliki standar rasa yang sama. Tidak boleh ada lagi pengalaman di mana sate di satu restoran enak, tetapi di restoran lain rasa dan kualitasnya berbeda jauh. Standardisasi adalah kunci. Selain itu, perlu ada lebih banyak kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan diaspora untuk memastikan bahwa produk Indonesia mudah diakses di pasar global. Jika tidak, kita akan terus tertinggal di belakang negara-negara yang lebih dulu membangun sistemnya dengan rapi.

Peluang dari SIAL Food & Drinks Indonesia 2026
Salah satu wadah penting untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung kuliner global adalah SIAL Food & Drinks Indonesia 2026. Pameran ini akan diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dan menjadi ajang bagi pelaku F&B nasional untuk memperluas jaringan kemitraan. Menurut Henri, penyelenggara ingin memastikan para pelaku F&B nasional bisa memperluas peluang kemitraan baru dan mendorong lompatan bisnis. SIAL juga akan menggelar Indonesia Barista Championship 2026/2027, yang menjadi ajang untuk menguji kompetensi para profesional industri kopi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya fokus pada makanan, tetapi juga pada minuman, yang merupakan bagian penting dari pengalaman kuliner.
SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 juga akan diselenggarakan secara bersamaan dengan Indonesia Food Transport & Logistics Expo 2026. Kolaborasi ini memberikan kesempatan bagi pelaku industri F&B untuk menemukan solusi terkait distribusi, penyimpanan, pengiriman, hingga sistem pendingin atau cold chain. Dengan mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman dengan penyedia jasa transportasi dan logistik dalam satu lokasi, penyelenggara berharap kerja sama bisnis dapat berlangsung lebih mudah. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat rantai pasok industri F&B Indonesia, yang merupakan fondasi penting untuk bisa bersaing di pasar global.

Membangun Brand dari Dalam
Sebelum melangkah ke pasar dunia, Indonesia perlu memperkuat fondasi di dalam negeri. Banyak bisnis kuliner sederhana yang memiliki potensi besar, seperti jual lauk matang, bahan masakan eceran, agen pulsa, dan antar air galon. Bisnis-bisnis ini memiliki pasar yang stabil karena berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Harga yang terjangkau membuat konsumen tidak perlu banyak berpikir sebelum membeli, dan jika kebutuhan tersebut muncul berulang, peluang mendapatkan pelanggan kembali pun semakin terbuka. Ini adalah bukti bahwa kuliner Indonesia memiliki kekuatan di level akar rumput.
Namun, untuk bisa menjadi brand global, bisnis-bisnis sederhana ini perlu diup-grade. Mereka perlu memiliki standar mutu yang konsisten, kemasan yang menarik, dan cerita yang kuat. Pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama untuk memberdayakan UMKM agar bisa naik kelas. Dengan cara ini, Indonesia tidak hanya memiliki restoran-restoran mewah di luar negeri, tetapi juga produk-produk konsumsi sehari-hari yang dikenal dan dicintai di seluruh dunia. Ini adalah mimpi yang besar, tetapi jika kita belajar dari Thailand, mimpi itu bisa diwujudkan.
Menuju Masa Depan yang Lebih Manis
Persaingan kuliner global tidak akan pernah berhenti. Thailand sudah membuktikan bahwa dengan sistem yang tepat, sebuah negara bisa mengubah kuliner menjadi kekuatan ekonomi. Indonesia memiliki semua bahan yang dibutuhkan: rasa, budaya, dan kekayaan alam. Yang kurang hanyalah sistem, konsistensi, dan keberanian untuk bersaing di level yang lebih tinggi. Program Rasa Indonesia dan SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 adalah langkah awal yang baik. Sekarang, kita hanya perlu melangkah lebih jauh, dengan strategi yang lebih jelas dan eksekusi yang lebih baik.
Kuliner adalah bahasa universal. Melalui kuliner, kita bisa memperkenalkan budaya, sejarah, dan identitas kita kepada dunia. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya. Saatnya Indonesia mengambil alih panggung dunia, bukan sebagai pengikut, tetapi sebagai pemimpin. Dengan kerja keras dan strategi yang tepat, kita bisa menjadikan kuliner Indonesia sebagai kebanggaan bangsa di mata dunia. Ini bukan lagi soal siapa yang lebih enak, tetapi siapa yang lebih cerdas dalam membangun brand.
Pertanyaan umum

Keep subscribing to Putri BudimanHer next filing reaches you the moment it publishes, on her own subdomain.
Subscribe
